Monday, September 7, 2009

MENGUBAH AIR MENJADI BAHAN BAKAR

KEPUTUSAN pemerintah menaikkan harga bahan bakar minvak (BBM) sudah pasti menambah beban masyarakat dalam kondisi ekonomi yang sudah sulit. Se­mentara itu, belum ada titik te­rang pengembangan energi alternatif pengganti BBM. Namun, kabar baik muncul dari Yogyakarta. Djoko Sutrisno berhasil menjadikan air sebagai "suplemen" bahan bakar yang mampu menghemat peng­gunaan BBM hingga 90%. Bestial Agustus 2005, ketika Djoko mengecek air aki meng­gunakan korek api. Tiba-tiba muncul ledakan. "Saya lantas berpikir. Kenapa air bisa mele­dak? Saya terns mencari jawab­annya," ujar tamatan kelas 2 SMP Pangudiluhur, Yogyakarta, itu.


Ia pun bertanya ke beberapa ahli kimia di Yogyakarta. Ja­wabannya, air bisa meledak karena mengandung hidrogen.


Tetapi untuk memisahkan hidrogen dalam air, ia tidak tabu beberapa relasinya. Karena itu, ia melakukan eksperimen untuk mendapat jawaban.


Riset kecil-kecilan pun ia lakukan. Pada 2006, ia mene­mukan rumus sederhana untuk menjawab rasa penasarannya. Rumus kimia air (H20) jika di­beri tegangan akan meng­hasilkan H2+02. "Itu sudah rLI­mus dari membaca buku," kata pria kelahiran 8 Mei 1957 itu.


EKSPERIMEN (UJI COBA)


Penelitian pun dilakukan. Caranya, ia memasukkan air ke tabung plastik yang sudah ditempatkan dua stainless steel. Di bagian bawah tabung plastik terdapat selang untuk menya­lurkan gas hidrogen.


Kemudian air dicampur kalium hidrolit (KOH) yang berfungsi sebagai katalisator untuk memisahkan kandungan H2 dan 02 pads air.


"KOH bisa dibeli di toko kimia. Sebanyak 1 kg KOH da­pat dibeli dengan harga Rp25 ribu. Sementara itu, dalam uji cobanya, 1 liter air menggu­nakan dua sendok teh KOH," penjelasan Djoko.


Ketika dua stainless steel yang dipasang di tabung plastik mendapat tegangan dari aki, tampak gelembung kecil. Gelembung itu, menurutnya, menandakan unsur hidrogen sudah terpisahkan dari oksigen.


Untuk membuktikan ada energi, Djoko menggunakan tempat lain yang terbuat dari kaleng. Kaleng itu diisi air sabun. Selang yang menyalurkan hidrogen dimasukkan ke kaleng tersebut.


Ketika permukaan kaleng disulut api, muncul ledakan. Ledakan semakin keras bila hidrogen semakin banyak. "Secara umum kinerja mesin adalah mengubah BBM menjadi ledakan untuk memicu busi membakar dan membuat piston bergerak. BBM kan intinya untuk membuat ledakan yang akhirnya bisa menggerakkan mesin. Jadi, kalau ada ledakan, mesin bisa bergerak. Sepeda motor pun bisa berjalan. Air me­miliki kandungan zat peledak yang cukup efektif yaitu hidro­gen," kata suami Melati, 46, itu.


Uji coba tersebut selesai de­ngan tercipta alat sederhana berbentuk tabung yang dinamakan electrolizer. Alat itu menimbulkan pembakaran yang jauh lebih besar, efisiensi tinggi, dan gas buang pun menurun 90%. Praktis dengan alat sederhana itu, bensin irit hingga 90%.

Djoko mencontohkan sepeda motor yang biasanya menggunakan 1 liter premium bisa me­nempuh jarak 30 hingga 35 km. Bila ditambah electrolizer jarak tempuhnya meningkat menjadi 50 km hingga 55 km.


Penggunaan electrolizer untuk motor hanya satu, kendaraan sedan atau minibus cukup dua, sedangkan bus atau truk bisa empat.


Menurutnya, pembakaran menggunakan hidrogen sangat baik dan menciptakan oktan mencapai 130. Bandingkan bila hanya menggunakan premium, oktannya hanya 80-an, sedangkan pertamax 94.


Agar menghasilkan higrogen yang bagus, Djoko menyarankan agar menggunakan air murni.


TIDAK DIPATENKAN


Djoko mengaku merasa lega mampu membuat alat hemat energi. Bahkan, ilmunya ia bagikan kepada ratusan orang secara gratis. Ilmu tersebut lantas membuka peluang bisnis bagi mereka yang telah belajar gratis kepadanya.


Salah satu murid Djoko, Novi Eka Laksmana, 22, pemilik bengkel di Karangwaru kidul TR2/502 Yogyakarta, mengaku bangga bisa belajar ilmu baru. "Sekarang ini sudah puluhan motor dan lima mobil menggunakan electrolizer di bengkel saya. Ilmu dari Pak Djoko itu juga bisa menambah penghasilan saya," ucapnya.


Untuk memasang electrozer di sepeda motor ditarik biaya Rp.75 ribu sedangkan mobil Rp.150 ribu.


Djoko todak berniat mematenkan karyanya. Bila kelak ada yang mematenkan electrolizer, akan terkena sanksi moral. "Akan ditertawakan banyak orang. Sudah ratusan orang yang belajar ke saya dan ribuan motor dan mobil memakai alat ciptaan saya ini." (Sulistiono/N-1)


Sumber : Media Indonesia. Penelitian. 25 Mei 2008/No.9985/Tahun XXXIX

No comments:

Post a Comment

Silakan berikan komenter,kritik, saran, dan usul yang bersifat membangun (tidak mengandung unsur negatif dan SARA)

Post a Comment